Mulai hari ini, postingan tentang hal-hal yang menurut saya tidak jelas (postingan ini misalnya) akan dijuduli dengan 'Asal Taruh #nomor'. Entri pertama yang berjudul 'Asal Taruh Zero' bisa dianggap sebagai prekuel dari postingan ini. Bisa dibilang tiru-tiru Fate, Crows, Ga-Rei, dan semacamnya lah.
Sedikit menyinggung tentang obsesi saya untuk menulis cerita, memang seperti dugaan awal. Mencari konsep cerita yang menarik tidak semudah memasak nasi goreng (padahal yang ini susah juga). Sejak kecil, saya terbiasa berimajinasi tentang anime atau semacamnya terutama yang bergenre action, fantasy, tipikal mainstream manga saat ini lah. Terkadang saya mengulang anime favorit di kepala saya, kadang juga membuat alur cerita sendiri entah dari anime yang sudah ada maupun dengan cerita fiktif imajinasi saya sendiri. Entah hal ini normal atau tidak, mengimajinasikan cerita terkadang masih saya lakukan hingga sekarang, walaupun saat ini cenderung mengimajinasikan yang ide cerita nya dari pemikiran sendiri.
Sempat terpikir ingin mencoba mentransformasi ide-ide cerita di kepala menjadi tulisan di blog. Salah satu yang terpikirkan memang agak kekanakan. Perebutan gelar raja berikutnya oleh 9 orang yang dipilih secara acak dengan kekuatan berbeda-beda. Perkuatan/pelemahan, ledakan, penyusutan/penggelembungan, penukaran, pembentukan senjata, penggerakan benda, gravitasi khusus, dimensi pribadi, senjata api. Mau tidak mau saling bunuh, hingga 1 dari 9 yang tersisa lah yang jadi raja. Kalau dilihat dari konsep seperti ini, saya jadi ragu apakah pemikiran saya secara umum sudah cukup dewasa untuk menghadapi hari-hari ke depannya? Gawat juga. Dan lagi kalo dilihat-lihat konsep cerita ini agak mirip dengan manga 'fiktif' di bakuman yang judulnya hitman10. Berarti memang konsep ini tidak bisa dijadikan cerita di blog. Saya pengen yang lebih orisinil.
Mungkin sebagian orang berpendapat, blog yang menarik itu isinya tentang cerita kehidupan sehari-hari atau cerita apalah yang penting lucu misalnya kayak blog nya raditya dika atau poconggggg (g nya berapa ya?). Mmm... tapi humor itu masalah bakat dan sepertinya tidak ada dalam diri saya. Kalo begitu yang seperti ini juga tidak bisa. Jika dipaksain entar malah menderita kayak Takagi yang memaksakan bikin komik gag (lagi-lagi bakuman (namanya juga terobsesi)).
Ah entahlah... makin dipikir malah makin bingung. Tapi obsesi masih berlanjut.